Di tengah gencarnya persaingan pemasaran digital, media sosial menjadi ujung tombak bagi hampir semua sektor bisnis, tak terkecuali industri properti. Foto rumah yang estetik, video walkthrough unit, hingga konten edukatif seputar KPR kini menjadi senjata utama tim sales dalam menggaet calon pembeli. Namun, di balik konten-konten yang tampil rapi dan menarik di linimasa, tersimpan cerita lain yang jarang terekspos: betapa terbatasnya sumber daya yang menopang produksi konten tersebut. Selama menjalani magang di bagian Marketing Communication (Marcom) sebuah pengembang properti di kawasan Cibubur, penulis menyaksikan langsung realitas ini. Tim yang bertanggung jawab memproduksi seluruh konten pemasaran ternyata hanya diisi oleh dua orang, satu bertugas mengelola manajemen dan persetujuan konten, satu lagi merangkap sebagai konseptor, videografer, sekaligus editor. Dua orang ini harus memenuhi kebutuhan konten harian tim sales sekaligus mengelola akun media sosial resmi perusahaan.
Kondisi semacam ini bukan sekadar cerita satu perusahaan, melainkan mencerminkan pola umum yang kerap terjadi pada tim Marcom di banyak pengembang properti skala menengah. Divisi konten yang idealnya membutuhkan sejumlah peran, seperti periset tren, penulis naskah, videografer, editor, hingga admin media sosial, pada praktiknya sering dirangkap oleh segelintir orang saja. Akibatnya, produksi konten berjalan dalam tekanan yang konstan. Menariknya, kendala yang paling terasa bukanlah proses pengambilan gambar atau penyuntingan video itu sendiri, melainkan tahap sebelum produksi: mencari ide. Riset tren, memantau strategi kompetitor, hingga menampung permintaan mendadak dari tim sales harus dikerjakan dalam waktu singkat. Tidak jarang ide konten justru lahir dari situasi terdesak, melihat apa yang sedang viral lalu buru-buru menyesuaikannya dengan kebutuhan pemasaran tanpa sempat melalui proses perencanaan yang matang.
Pertanyaannya kemudian, mengapa keterbatasan semacam ini bisa terus bertahan tanpa penyelesaian yang berarti? Salah satu kemungkinan jawabannya terletak pada bagaimana skala prioritas ditentukan dalam organisasi pemasaran secara umum. Divisi konten kerap dipandang sebagai fungsi pendukung yang bekerja di belakang layar, sehingga penambahan sumber daya untuknya tidak selalu menjadi agenda mendesak dibanding target penjualan itu sendiri. Padahal, di sisi lain, harapan agar konten terus diperbarui secara konsisten tetap ada. Di sinilah letak dilemanya: tuntutan hasil tetap tinggi, sementara dukungan yang tersedia tidak selalu berbanding lurus. Sebagai respons atas keterbatasan ini, sejumlah perusahaan mengambil jalan tengah yang cukup menarik untuk dicermati: alih-alih menambah personel di tim Marcom, mereka memilih membekali tim sales dengan keterampilan produksi konten secara mandiri, termasuk pelatihan memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk mempercepat proses pembuatan materi promosi. Langkah ini patut diapresiasi sebagai bentuk adaptasi yang cukup progresif di tengah keterbatasan sumber daya manusia karena tidak membiarkan kendala tersebut berhenti sebagai keluhan semata.
Meski demikian, langkah ini juga menyisakan ruang refleksi lebih jauh. Mendorong tim sales untuk turut memproduksi konten memang membantu meringankan beban tim Marcom dalam jangka pendek. Namun, apakah pendekatan ini sudah cukup menggantikan peran strategis sebuah divisi konten yang solid dan terencana, ataukah ini baru menjadi solusi sementara yang perlu terus dievaluasi seiring berkembangnya skala bisnis? Jika pola kerja yang serba mendadak dan minim perencanaan ini terus berlangsung tanpa evaluasi, risikonya adalah menurunnya kualitas konten dalam jangka panjang. Konten yang lahir dari keterdesakan cenderung mengikuti tren sesaat tanpa sempat membangun narasi jangka panjang yang memperkuat citra merek secara konsisten. Padahal, dalam industri properti yang keputusan pembeliannya melibatkan pertimbangan panjang dan nilai investasi besar, konsistensi pesan justru menjadi salah satu kunci membangun kepercayaan calon konsumen dari waktu ke waktu.
Idealnya, penguatan tim Marcom tidak semata dilihat sebagai penambahan beban biaya, melainkan investasi jangka panjang yang berdampak langsung pada efektivitas pemasaran secara keseluruhan. Baik melalui penambahan personel, penataan alur kerja yang lebih terencana, maupun kombinasi keduanya dengan pemberdayaan tim sales, yang terpenting adalah keterbatasan semacam ini tidak dibiarkan menjadi kondisi yang dianggap wajar begitu saja. Pengalaman ini menunjukkan satu hal sederhana: konten pemasaran yang tampil rapi di media sosial sering kali lahir dari proses kerja yang jauh dari ideal. Hal ini bukan untuk mempermasalahkan siapa pun, melainkan pengingat bahwa divisi konten perlu dipandang sebagai bagian strategis dalam pemasaran, bukan sekadar pelengkap.
Penulis: Melisa Disnayanti

0 Komentar