𝗞𝗲𝘁𝗶𝗸𝗮 𝗽𝗲𝗻𝗷𝘂𝗮𝗹𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝘂𝘀𝗮𝗵𝗮𝗮𝗻 𝗱𝗶𝗹𝗮𝗸𝘂𝗸𝗮𝗻 𝗺𝗲𝗹𝗮𝗹𝘂𝗶 𝗮𝗸𝘂𝗻 𝗽𝗿𝗶𝗯𝗮𝗱𝗶, 𝘀𝗶𝗮𝗽𝗮 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝘀𝗲𝗯𝗲𝗻𝗮𝗿𝗻𝘆𝗮 𝘀𝗲𝗱𝗮𝗻𝗴 𝗱𝗶𝗯𝗮𝗻𝗴𝘂𝗻: 𝗽𝗲𝗿𝘀𝗼𝗻𝗮𝗹 𝗯𝗿𝗮𝗻𝗱 𝗺𝗮𝗿𝗸𝗲𝘁𝗶𝗻𝗴 𝗮𝘁𝗮𝘂 𝗯𝗿𝗮𝗻𝗱 𝗽𝗲𝗿𝘂𝘀𝗮𝗵𝗮𝗮𝗻?

Lingkar Studi Pers, Bogor - Proses penjualan yang dulu identik dengan showroom dan brosur kini dapat dimulai hanya dari layar ponsel melalui siaran langsung yang terasa lebih personal. Seorang tenaga marketing menjelaskan produk, menyapa penonton, dan menjawab pertanyaan melalui akun media sosial pribadinya. Setelah itu, calon konsumen diarahkan melanjutkan komunikasi melalui WhatsApp. Pilihan ini cukup masuk akal karena akun pribadi telah memiliki audiens, gaya komunikasi yang lebih natural, serta hubungan yang terbangun dengan pengikut. Bagi calon konsumen, berinteraksi dengan sosok yang sudah mereka kenal melalui layar dapat terasa lebih dekat dibandingkan berkomunikasi melalui akun resmi perusahaan.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kekuatan pemasaran digital tidak hanya terletak pada merek, tetapi juga pada orang yang berada di baliknya. Tenaga marketing tidak sekadar menawarkan produk, tetapi membangun kepercayaan melalui cara berbicara, memberikan rekomendasi, dan menciptakan kedekatan dengan calon konsumen. Di sinilah personal branding menjadi semakin penting. Namun, muncul persoalan: ketika audiens, interaksi, dan kepercayaan dibangun melalui akun pribadi, kepada siapa sebenarnya hubungan tersebut melekat? Apakah konsumen mengingat merek yang ditawarkan, atau justru lebih mengingat sosok tenaga marketing yang berinteraksi dengan mereka? 

Menurut saya, hal ini penting diperhatikan dalam pemasaran yang ingin membangun audiens dalam jangka panjang. Pengikut, hubungan dengan calon konsumen, dan kepercayaan yang terbentuk merupakan modal berharga dalam aktivitas penjualan. Namun, modal tersebut berpotensi melekat pada identitas personal. Jika suatu saat tenaga marketing berpindah tempat kerja, hubungan dengan audiens pun berpotensi ikut berpindah. Karena itu, persoalannya bukan memilih antara akun pribadi atau akun resmi perusahaan, melainkan bagaimana keduanya dapat berjalan berdampingan. 

Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah perusahaan memberikan panduan dalam aktivitas pemasaran melalui akun pribadi. Tenaga marketing tetap dapat mempertahankan gaya komunikasi yang personal, tetapi identitas perusahaan harus tetap terlihat. Misalnya, ketika melakukan live, dicantumkan nama resmi perusahaan beserta alamatnya pada judul atau keterangan live sehingga audiens mengetahui bahwa tenaga marketing tersebut merupakan bagian dari perusahaan. Dengan pola ini, kedekatan personal tetap terjaga, sementara perusahaan memiliki peluang untuk membangun hubungan langsung dengan konsumen. 

Pada akhirnya, pemasaran digital bukan hanya tentang menjangkau audiens, tetapi memastikan jangkauan tersebut bermuara pada merek yang dibawa. Kreativitas tenaga marketing dalam memanfaatkan media sosial perlu diapresiasi karena dapat membuka peluang menjangkau calon konsumen yang mungkin tidak tersentuh promosi konvensional. Namun, kreativitas tersebut tetap membutuhkan arah melalui panduan komunikasi dan konsistensi informasi produk. Dengan begitu, identitas personal tenaga marketing dan identitas perusahaan dapat tumbuh bersama tanpa saling menggerus. 
 
Penulis: Siti nur inayah

Posting Komentar

0 Komentar