𝗞𝗼𝗺𝘂𝗻𝗶𝗸𝗮𝘀𝗶 𝗣𝗲𝗺𝗲𝗿𝗶𝗻𝘁𝗮𝗵 𝗱𝗶 𝗘𝗿𝗮 𝗚𝗲𝗻 𝗭: 𝗣𝗲𝗿𝗹𝘂𝗸𝗮𝗵 𝗕𝗮𝗵𝗮𝘀𝗮 𝗣𝘂𝗯𝗹𝗶𝗸 𝗟𝗲𝗯𝗶𝗵 𝗙𝗹𝗲𝗸𝘀𝗶𝗯𝗲𝗹?


Sumber foto: Mutiara Dewi


Media sosial telah mengubah cara orang menerima informasi. Informasi yang dulunya terutama diperoleh melalui televisi, radio, atau media cetak kini dapat dengan mudah ditemukan di berbagai platform digital. Pergeseran ini membuat cara penyampaian informasi publik menjadi semakin penting, terutama saat menyasar Generasi Z, yang terbiasa dengan informasi yang ringkas, visual, dan mudah dipahami.

Menurut saya, komunikasi pemerintah tidak selalu harus menggunakan bahasa yang kaku dan formal, tetapi juga tidak perlu sepenuhnya mengadopsi bahasa Generasi Z. Bahasa formal tetap diperlukan untuk menjaga keakuratan dan kredibilitas informasi. Namun, cara penyampaiannya dapat dibuat lebih sederhana dan komunikatif agar sesuai dengan karakteristik audiens. Saya menyadari hal ini saat terlibat dalam produksi konten digital selama magang. Konten tidak hanya membutuhkan informasi yang akurat, tetapi juga pertimbangan yang cermat terhadap visual, pemilihan kata, dan cara penyampaiannya agar dapat menarik perhatian publik.

Di media sosial, masyarakat memiliki banyak pilihan konten. Informasi yang terlalu panjang atau sulit dipahami dapat dengan mudah terlewatkan. Oleh karena itu, penggunaan bahasa yang sederhana, visual yang relevan, dan gaya penyampaian yang sesuai dengan audiens dapat membantu menyampaikan informasi publik secara lebih efektif. Namun, menyesuaikan komunikasi tidak berarti pemerintah harus mengikuti setiap tren atau menggunakan bahasa gaul secara berlebihan. Yang terpenting adalah memahami karakteristik masyarakat tanpa mengorbankan substansi dan kredibilitas informasi tersebut.

Pada akhirnya, pemerintah tidak harus berbicara seperti Gen Z untuk dapat menjangkau Gen Z. Pemerintah hanya perlu memahami bahwa cara masyarakat menerima informasi telah berubah, sehingga cara menyampaikannya pun perlu ikut berkembang.

Posting Komentar

0 Komentar