Lingkar Studi Pers, Bogor - Saat KKL di Bidang PIKP Diskominfo Kabupaten Bogor, saya dan tim membuat konten reels berisi himbauan pemakaian baju adat Sunda untuk pedagang UMKM saat Car Free Day, dengan kami sendiri sebagai talent yang mengenakannya. Hanya beberapa detik footage, tapi di baliknya ada banyak pertimbangan: sudut kamera, komposisi, cahaya, dan bagaimana pesan "ayo pakai baju adat saat CFD" bisa sampai tanpa terkesan menggurui. Dari sini saya belajar bahwa di era sekarang, pemerintah tidak lagi cukup mengandalkan surat edaran atau spanduk statis. Kamera jadi corong baru, dan kalau tidak dirawat secara visual, pesan sepenting apa pun bisa lewat begitu saja di linimasa.
Banyak yang mengira produksi konten pemerintah itu sederhana: ambil video, tempel teks, lalu unggah. Padahal setiap detik footage adalah keputusan yang harus diambil di lapangan, mulai dari sudut mana agar baju adat terlihat jelas, gaya seperti apa supaya natural, sampai apakah cahaya pagi cukup untuk memperlihatkan warna kain dengan jujur. Saya sengaja mengombinasikan long shot untuk suasana CFD dan close up untuk detail baju adat, bukan sekadar pilihan estetis, melainkan strategi agar pedagang UMKM bisa membayangkan diri mereka tampil serupa.
Pertanyaan yang saya pikirkan betul-betul saat itu bukan cuma "apa yang mau disampaikan", tapi "kenapa pedagang UMKM mau meluangkan waktu menontonnya". Audiens media sosial itu aktif memilih, bukan penonton pasif. Karena itu daya tarik konten ini saya rancang bukan dari kesan instruksi, melainkan dari kebanggaan budaya yang diperlihatkan langsung lewat penampilan kami di depan kamera. Harapannya, pedagang UMKM terdorong ikut berbaju adat saat melihat rekan sesama tim muda tampil percaya diri.
Pengalaman ini membuat saya percaya bahwa komunikasi visual bukan lagi "nilai tambah" bagi instansi pemerintah, melainkan kebutuhan dasar, karena warga hari ini terbiasa dengan konten yang cepat, rapi, dan personal, sementara pemerintah sedang bersaing perhatian dengan ribuan konten hiburan lain. Untungnya, komunikasi visual yang baik tidak harus mahal atau rumit. Memilih angle yang tepat, memaksimalkan cahaya alami, dan menjaga editing tetap konsisten dengan identitas instansi sudah cukup membuat konten terasa profesional sekaligus dekat dengan warganya.
Pada akhirnya, kamera di tangan saya bukan sekadar alat dokumentasi, melainkan jembatan antara kebijakan dan warga. Baju adat Sunda yang kami kenakan pagi itu berubah jadi lebih dari sekadar pakaian, menjadi ajakan yang meyakinkan, disampaikan dengan bahasa yang dipahami audiens hari ini: visual, singkat, dan tulus. Di situlah pekerjaan rumah besar instansi pemerintah lain, yaitu belajar bicara dengan bahasa yang sama seperti warganya menonton dunia lewat layar.
Penulis: Fairuz Husna Lana

0 Komentar