Birokrasi Kampus Menjadi Tema Debat Capresma - Cawapresma Unida Periode 2018-2019


Debat Capresma - Cawapresma antara pasangan No. 1 Fakhri-Sumantri dan calon petahana pasangan No. 2 Arifin - Balun berlangsung pada Rabu (28/3) di depan lobby gedung E Universitas Djuanda.

Menghadirkan dua panelis, Ridwan Irwansyah, S.Sos. selaku Kepala BAAK dan Sandi Maftuh Firdaus selaku Presma 2017-2018, acara debat berlangsung kondusif.

Debat yang dimoderatori oleh Dr. H. Muhammad Luthfie, M.Si itu diawali dengan perkenalan para pasangan calon (paslon)beserta visi misi yang mereka punya.

Dengan tema birokrasi kampus, setiap paslon mengemukakan ide dan gagasan mereka dalam menjawab pertanyaan - pertanyaan yang diajukan. Beberapa keluhan mahasiswa mengenai birokrasi kampus adalah sulitnya menyampaikan dan mengajukan dana kegiatan kepada kampus. Para mahasiswa tersebut juga mengeluhkan tidak adanya format yang pasti dalam birokrasi kampus yang sistemnya dinilai masih tumpang tindih. Selain itu, peran BEM KM selama ini dalam menaungi ormawa terutama berkaitan dengan masalah birokrasi pun turut dipertanyakan.

Paslon No. 1 Fakhri - Sumantri menjawab bahwa memang sudah seharusnya BEM KM menaungi ormawa lain dalam kegiatan-kegiatan, termasuk administrasi. Oleh karena itu, paslon ini mengatakan bahwa nanti mereka akan membuat konsep baru dalam BEM KM itu sendiri. Begitupun dengan paslon No. 2 yang mengusung "reformasi birokrasi" dalam visi dan misinya menuturkan bahwa mereka akan berusaha memperbaiki sistem birokrasi.

Selain masalah birokrasi, debat juga menyinggung masalah pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM), baik secara internal maupun eksternal. Salah satunya adalah masalah perempuan yang belakangan ini sedang banyak disorot.

"Saat ini Forum Perempuan Unida telah menjadi wadah untuk menampung aspirasi dan pergerakan perempuan. Sementara Forum Perempuan ini adalah hasil dari BEM KM saat ini. Lalu bagaimana nasib Forum Perempuan setelah Anda terpilih?," ujar Fitriah selalu Ketua Forum Perempuan Unida dalam sesi tanya-jawab bersama para capresma dan cawapresma.

Kedua tim sepakat bahwa Forum Perempuan memiliki manfaat yang luar biasa bagi pergerakan perempuan Indonesia. "Kami tentu akan terus menindaklanjuti forum ini, oleh sebab itu kami akan memasukkannya ke dalam struktural BEM KM," jawab paslon No. 1. Senada dengan jawaban Palon No. 2 yang menuturkan bahwa Forum Perempuan akan dijadikan kementerian di BEM KM apabila mereka terpilih nanti. "Apabila di BEM KM nanti ada Kementerian Perempuan, maka di BEM fakultas pun akan diadakan Departemen Perempuan," kata Arifin selaku capresma No. 2.

Di samping membahas berbagai permasalahan, para paslon juga menunjukkan keunggulannya masing-masing. Paslon No. 1 lebih menekankan kepada perbaikan birokrasi yang dipandang menjadi unsur penting dan peningkatan SDM dengan pembentukan forum untuk menyampaikan aspirasi. Berbeda dengan paslon No. 2 yang mengunggulkan pengalaman dari calon petahana dan menawarkan perbaikan dalam berbagai hal yang telah dilakukan oleh presma sebelumnya. "Pengalaman kami yang sudah lama berada di BEM KM, menjadikan kami masuk ke dalam sistem (birokrasi), sehingga kami tahu banyak mengenai sistem tersebut," tutur Arifin.

Paslon No. 2 yang mengaku hendak melanjutkan perjuangan dari kepemimpinan sebelumnya, mengklaim bahwa ada perbedaan yang bisa menjadikan mereka lebih baik dari kepemimpinan sebelumnya. "Perjuangan dan capaian dari presma sebelumnya patut kita hargai. Namun,apa yang membedakan adalah kita punya program yang konkrit, mulai dari fungsi sebagai advokasi, pengabdian, dan pelaksanaan program-program yang belum terlaksana," jelas Balun. Mereka juga berencana menyelenggarakan beberapa program baru seperti program Djuanda Muda untuk meminimalisir apatisme mahasiswa terhadap kampus.

Kedua paslon juga menyoroti mengenai desas-desus dukungan pihak eksternal kampus yang beredar pada kalangan mahasiswa. Keduanya sama-sama mengakui bahwa desas-desus dukungan itu benar, namun alasan setiap paslon berbeda.

Arifin mengaku bahwa dukungan dari pihak eksternal terhadap paslon 2 memang ada. Namun, jika terpilih nanti, ia tidak menampung aspirasi pendukungnya tersebut tetapi menampung seluruh aspirasi mahasiswa.

Sementara itu, paslon 1 mengakui bahwa mereka juga mendapat dukungan, tetapi dukunga itu tetap berasal dari mahasiswa unida.

"Perlu dietahui juga oleh para mahasiswa, apakah dukungan pihak eksternal ini datang dari orang-orang luar kampus atau masih satu kampus. Dukungan kami hanya dari teman-teman sekampus saja, hal ini karena kami memang memiliki visi misi yang sama. Kami (paslon 1) mencoba merangkul orang-orang yang memiliki ide dan gagasan yang baru," jelasnya.

Walaupun kedua paslon saling menunjukkan taringnya untuk menjadi yang terbaik, mereka mengaku bahwa akan saling mendukung siapapun nanti paslon yang terpilih.

"Apabila ada pemahaman-pemahaman yang bisa dikolaborasikan yang bisa memajukan universitas dan juga bangsa, kenapa tidak? Tapi hal itu juga perlu dikaji ulang. Jadi kalau kebijakan yang diambil telah disepakati forum, ya kami akan tetap mendukung demi kemajuan kampus dan bangsa," kata Fakhri.

Menurut Arifin, tidak akan menutup kemungkinan bahwa Ia dan Balun akan mendukung jika Fakhri dan Sumantri yang terpilih. "Kami siap mendukung, baik mendukung dalam bentuk support dalam setiap program. Begitupun pengawasan dan kritikan juga merupakan bentuk dukungan agar kampus menjadi lebih baik," imbuhnya. (irs/kur)

Posting Komentar

0 Komentar