Pelayanan kesehatan sejatinya bukan hanya tentang keterampilan tenaga medis dalam mengenali penyakit atau memberikan perawatan kepada pasien. Lebih dari itu, layanan kesehatan memerlukan kerja sama dan komunikasi yang efektif antara berbagai pihak, khususnya antarpetugas kesehatan. Dokter, perawat, bidan, tenaga farmasi, petugas laboratorium, hingga staf administrasi memiliki peran yang saling terhubung. Ketika komunikasi di antara mereka tidak berjalan lancar, kesalahan kecil dapat berkembang menjadi masalah serius yang berdampak langsung pada keselamatan dan kenyamanan pasien.
Kesalahan komunikasi antarpetugas pelayanan kesehatan merupakan salah satu masalah yang sering kali dianggap remeh, padahal konsekuensinya tidak bisa dianggap sepele. Informasi terkait kondisi pasien, riwayat kesehatan, hasil pemeriksaan, pengobatan yang diberikan, serta rencana tindakan harus disampaikan dengan jelas dan akurat. Salah satu penyebab terjadinya miskomunikasi adalah tingginya beban kerja tenaga kesehatan. Kondisi kelelahan, terburu-buru, dan tuntutan untuk menyelesaikan tugas dengan cepat dapat mengakibatkan komunikasi menjadi tidak efektif.
Di samping beban kerja, perbedaan dalam cara berkomunikasi juga dapat menjadi masalah. Setiap petugas memiliki kebiasaan dan gaya komunikasi yang berbeda-beda. Apabila tidak ada standar komunikasi yang jelas, kemungkinan terjadinya kesalahpahaman akan semakin besar. Miskomunikasi juga dapat timbul akibat budaya kerja yang kurang terbuka. Para pegawai mungkin merasa enggan untuk bertanya atau mengoreksi informasi yang disampaikan oleh rekan kerja, terutama ketika ada perbedaan jabatan atau tingkat senioritas. Padahal, memastikan kembali informasi yang belum jelas merupakan bagian dari upaya menjaga keselamatan pasien.
Menurut pendapat saya, solusi untuk masalah ini tidak cukup hanya dengan meminta pegawai untuk lebih berhati-hati. Institusi pelayanan kesehatan harus mengembangkan sistem komunikasi yang mendukung ketelitian tersebut. Salah satu caranya adalah dengan menerapkan prosedur komunikasi yang standar, pencatatan informasi yang jelas, serta kebiasaan untuk melakukan konfirmasi ulang terhadap informasi yang penting. Pertemuan singkat antara petugas atau serah terima pasien juga perlu dilakukan dengan cara yang terstruktur. Teknologi seperti rekam medis elektronik dan sistem pencatatan yang terintegrasi juga dapat membantu mengurangi kemungkinan miskomunikasi, meskipun tetap membutuhkan konsistensi dari petugas.
Pada akhirnya, pelayanan kesehatan melibatkan berbagai pihak dengan tujuan yang sama, yaitu memberikan layanan terbaik dan menjaga keselamatan pasien. Miskomunikasi antara petugas bukan sekadar persoalan hubungan kerja, tetapi juga dapat menjadi persoalan keselamatan pasien. Oleh karena itu, komunikasi harus dianggap sebagai bagian penting dalam mutu pelayanan kesehatan. Petugas harus terbiasa memberikan informasi dengan jelas, mendengarkan secara aktif, melakukan klarifikasi, dan tidak takut mengajukan pertanyaan. Di sisi lain, manajemen fasilitas kesehatan perlu menciptakan lingkungan kerja yang memungkinkan komunikasi berlangsung secara terbuka dan aman sehingga tercipta budaya pelayanan kesehatan yang lebih profesional, aman, dan memprioritaskan kebutuhan pasien.
Penulis : Amalia Alimni Marshandi

0 Komentar