Dalam kompetisi yang diselenggarakan oleh Center for Media Sports Student bersama Marcomedia University, University of North Carolina at Chapel Hill, dan Polytechnic University of The Philippines, Balqis mengangkat esai berjudul Media Framing of Failure and Development in Indonesia Football. Melalui kajian tersebut, ia meneliti bagaimana media membingkai kegagalan dan perkembangan sepak bola Indonesia.
"Aku harus baca beritanya satu-satu untuk paham isi dan framing yang diangkat," ungkapnya.
Perjalanan menuju kemenangan tidak berjalan mudah. Selain harus menyelesaikan esai di tengah padatnya aktivitas, Balqis juga menghadapi tantangan saat mempresentasikan penelitiannya dalam bahasa Inggris pada babak final yang berlangsung secara daring.
"Sempet ada kepikiran untuk mundur karena ngerasa cape, tapi akhirnya tetep lanjut," ceritanya.
Menurutnya, topik yang mengangkat kegagalan Timnas Indonesia lolos ke Piala Dunia 2026 menjadi salah satu alasan esainya mampu menarik perhatian juri.
Kemenangan ini terasa istimewa bagi Balqis karena datang setelah berbagai pengalaman mengikuti lomba tingkat nasional tanpa hasil yang diharapkan.
"Dari banyaknya lomba tingkat nasional yang aku ikuti dan ga pernah menang, akhirnya aku bisa menang di tingkat internasional pula," katanya.
Dari pengalaman tersebut, Balqis memegang satu pesan sederhana.
"Coba dulu aja, walaupun takut, daripada menyesal karena ga nyoba."


0 Komentar