𝗜𝗻𝘀𝘁𝗮𝗴𝗿𝗮𝗺 𝗢𝗿𝗴𝗮𝗻𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗕𝘂𝗸𝗮𝗻 𝗣𝗮𝗷𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻, 𝗧𝗮𝗽𝗶 𝗪𝗮𝗷𝗮𝗵 𝗣𝘂𝗯𝗹𝗶𝗸 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗛𝗮𝗿𝘂𝘀 𝗗𝗶𝗸𝗲𝗹𝗼𝗹𝗮 𝗦𝗲𝗿𝗶𝘂𝘀

Lingkar Studi Pers, Bogor - Di era digital saat ini, media sosial bukan lagi sekadar sarana berbagi momen pribadi, melainkan telah menjadi ruang komunikasi yang sangat penting bagi berbagai organisasi. Terutama bagi lembaga pemerintah dan organisasi olahraga, kehadiran di platform seperti Instagram menjadi kunci dalam membangun citra, menyebarkan informasi, dan menjalin interaksi dengan masyarakat luas. Namun, fenomena yang saya amati selama magang di Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kota Bogor menunjukkan bahwa banyak organisasi masih belum memaksimalkan potensi media sosial ini secara optimal.

Menurut laporan Reportal data (2025) terdapat sekitar 1,74 miliar pengguna aktif Instagram di seluruh dunia. Indonesia sendiri menjadi salah satu negara dengan jumlah pengguna Instagram terbanyak, yaitu sekitar 108 juta pengguna pada tahun 2025, menempatkannya di posisi keempat dunia. Angka ini menunjukkan bahwa Instagram bukan hanya platform hiburan, tetapi telah menjadi ruang publik yang sangat besar dan berpengaruh. Bahkan menurut Badan Pusat Statatistik, pada pertengahan 2025 populasi Indonesia mencapai 284 juta jiwa, di mana hampir 48% pengguna internet aktif menggunakan Instagram (Bps, 2025). Data ini memperkuat pentingnya peran media sosial dalam komunikasi publik, khususnya bagi organisasi seperti KONI Kota Bogor yang memiliki tugas strategis dalam pengembangan olahraga daerah.

Selama menjalani magang, saya langsung terlibat dalam pembuatan konten dan pengelolaan akun Instagram resmi KONI Kota Bogor, @konikotabogor_official. Dari pengalaman ini, penulis melihat bahwa akun tersebut belum dikelola dengan maksimal. Meski memiliki jumlah pengikut yang cukup besar, keterlibatan atau engagement dari pengguna masih rendah. Konten yang diunggah cenderung jarang, kurang terstruktur, dan minim pemanfaatan fitur interaktif seperti Reels, Carousel, Story, serta Polls. Visual yang digunakan pun sering kali kurang menarik dan tidak konsisten dalam kualitas. Padahal,  Triaputri & Muljono (2022) dalam penelitiannya menyatakan bahwa pemanfaatan fitur-fitur Instagram yang beragam dan konten visual yang menarik secara signifikan dapat meningkatkan keterlibatan pengguna dan memperluas jangkauan pesan organisasi.

Pengelolaan media sosial yang asal-asalan dan tidak terencana jelas menghambat efektivitas komunikasi digital. Instagram bukan hanya soal tampilan estetik semata, melainkan juga soal bagaimana menyampaikan pesan yang relevan, terjadwal, dan mampu memancing interaksi. Sayangnya, banyak organisasi publik yang masih menganggap pengelolaan media sosial sebagai tugas sampingan, tanpa adanya tim khusus atau strategi komunikasi digital yang terintegrasi. Akibatnya, akun-akun resmi sering menjadi “pajangan” tanpa mampu berfungsi sebagai media komunikasi dua arah yang dinamis dan responsif.

Salah satu solusi utama yang penulis rekomendasikan adalah pembentukan tim komunikasi digital yang profesional dan berdedikasi di dalam organisasi. Tim ini bertanggung jawab menyusun kalender konten yang jelas, merancang narasi yang tepat sasaran, dan memanfaatkan seluruh fitur Instagram untuk mengoptimalkan engagement. Konsistensi dalam frekuensi posting sangat penting agar pengikut tidak kehilangan minat dan terus mendapatkan informasi terkini. Selain itu, analisis rutin terhadap performa konten menggunakan fitur insight Instagram dapat membantu menyesuaikan strategi agar lebih efektif.

Lebih jauh lagi, pendekatan storytelling yang melibatkan atlet, pelatih, dan kegiatan olahraga lokal dapat membuat konten menjadi lebih hidup dan dekat dengan masyarakat. Misalnya, menampilkan kisah perjuangan atlet daerah, pelatihan yang inspiratif, atau informasi edukatif tentang olahraga yang sedang dipromosikan. Pendekatan seperti ini bukan hanya menarik perhatian, tapi juga membangun rasa kebanggaan dan keterikatan komunitas dengan KONI Kota Bogor.

Keterbukaan dan transparansi juga bisa menjadi nilai tambah dalam pengelolaan media sosial. Dengan rutin membagikan laporan kegiatan, hasil pertandingan, dan pengumuman penting, masyarakat merasa lebih dipercaya dan terlibat langsung dalam perkembangan organisasi. Hal ini pada akhirnya dapat memperkuat citra positif dan meningkatkan dukungan publik.

Media sosial, khususnya Instagram, adalah wajah digital sebuah organisasi. Jika wajah ini dikelola dengan serius dan profesional, ia bisa menjadi jembatan efektif yang menghubungkan organisasi dengan masyarakat. Sebaliknya, jika dikelola secara asal-asalan, organisasi berisiko kehilangan peluang besar dalam membangun komunikasi yang efektif dan memperkuat kehadirannya di ranah digital.

Oleh karena itu, sudah saatnya organisasi-organisasi publik seperti KONI Kota Bogor menyadari bahwa media sosial bukan sekadar formalitas atau pajangan. Melainkan ruang strategis yang harus dioptimalkan untuk menjangkau lebih banyak masyarakat, meningkatkan partisipasi, dan membangun citra positif. Pengelolaan ini bisa dilakukan dengan cara mengunggah kemenangan para atlet, mempublikasikan kegiatan para atlet dan kegiatan penting lainnya. Dengan pengelolaan yang tepat, Instagram dapat menjadi alat komunikasi yang powerful sekaligus sumber inspirasi bagi perkembangan olahraga di daerah. 

Penulis: Nina Rosiana

Posting Komentar

0 Komentar